Perencanaan itu Penting, tapi jangan Lupa Kontrol Ekspektasi

Oke, gue lanjutin di blog aja, soalnya kalo di mini-blog di Instagram ngga cukup karena akan panjang. Follow IG gue dong di @maulasam 😊

Anyway, gue awali tulisan ini dengan ngebahas tentang akun financial advisor yang beberapa minggu lalu happening karena kasus yang merugikan nasabahnya.

Ngga cuma di situ, issuenya bercabang jadi ke kasus ownernya, awalnya menyinggung gaya hidupnya yang hypebeast dan kontradiktif dengan advice-advicenya ke publik, berentet jadi banyak kasus lainnya –iya, ini ga ada hubungannya sama tulisan ini sih, gue cuma ngajak ngegossip aja cyin, yuks.

“Menjual ketakutan”, istilah ini gue dapet dari netijen juga.

Kalo dipikir-pikir, iya relate. Karena akun IG financial advisor itu kerap kali ngebahas biaya-biaya yang membuat orang takut menghadapi hidup.

Dipikir logika, iya juga. Gue dan istri juga ngikutin. Sebenernya yang kemudian jadi anxious istri gue, gue –yang posisinya usaha bankrut ketipu orang, ngga bisa terlalu jauh mikirin persiapan sekolah anak, rumah, kendaraan, jalan-jalan, bla bla bla.

Gue mau cerita, tapi gue bukan advisor apa pun gue advisor pesugihan btw, hanya berbagi pengalaman.

Jauh sebelum akun financial advisor itu muncul, sejak umur 18 tahun gue sudah merencanakan keuangan dan karir; karir apa yang bisa membuat gue punya pencapaian finansial lebih cepat, berapa duit yang harus gue tabung untuk nikah dengan kondisi ideal seperti; nikah di gedung, bisa nyicil rumah & kendaraan, biaya persiapan Ibu hamil hingga melahirkan, dst dst.

Setelah dicatat dan direncanakan,

“Hmm, kira-kira, gue harus ngapain ya untuk bisa dapet semua itu dengan cara yang relatif cepat dan mudah.”

Aha! Kemudian muncul ide brilian yang langsung gue tulis di buku agenda, seperti ini,

“Gue kudu nikahin cewek yang orang tuanya tajir mampus.”

Oke, ke sesi serius lagi,

Gue merencanakan 2 hal setelah lulus kuliah;

1) kalo IPK di atas 3,00, gue akan kerja di perusahaan bonafit sehingga di umur 27 udah punya posisi yang cukup baik, dengan salary yang baik pula, atau,

2) kalo IPK di bawah 3,00, gue akan memulai merintis usaha, dengan estimasi di umur 27 akan memiliki sejumlah tabungan yang cukup.

Nasib mengantarkan gue ke pilihan ke-2.

Ya, gue memulai usaha di umur 23, dimulai dengan jualan t-shirt dan desain grafis, kemudian bikin buku, dan bukunya difilmin pula. Bisa dibilang, meski jatuh bangun, rencana gue berjalan dengan baik.

Umur 27 gue menikah, dengan segala persiapan financial-nya. Meski ada beberapa yang kurang lah, tapi optimis bisa dikejar karena usaha lagi bagus.

Tidak dinyana, unexpected event terjadi, gue kena tipu. Membuat semua tabungan, usaha, kerja keras, dan planning-planning hilang begitu aja. Persiapan selama 5 tahun, hancur dalam 1 hari.

Waktu itu memang lagi heboh tentang konten-konten tentang financial advisor & financial planning, pembahasannya beda-beda. Ada yang menangkap sebagai plan yang oke.

Tapi bagi yang lain mungkin sekali diterima negatif, kasus yang sering terjadi adalah kecemasan. Banyak yang cemas sama kariernya, cemas sama pendapatan yang dia terima, cemas sama kondisi keuangannya, dan jadi cemas sekali menghadapi hidup.

Kasus simple, orang yang tadinya nyaman kerja dengan gaji yang cukup, jadi punya masalah sama perusahaannya karena kehilangan semangat bekerja, ngebanding-bandingin sama temennya, kemudian ingin menuntut gaji lebih tapi ngga enak, eh malah ada masalah sama atasannya, dan banyak kasus lain, bahkan hingga kasus kejahatan.

Berbanding terbalik dengan rasa bersyukur ya.

Makanya netijen jadi murka ketika akun financial advisor itu kena masalah financial. Lah ini apaan dah? Ini ibarat kayak Chef Joni keselek sama masakannya sendiri.

Beberapa tahun ini pula, orang mulai concern dengan mental-health issue, di mana gue juga terbilang sebagai survivor. Meski ngga pernah didiagnosa secara klinis oleh rumah sakit (karena gue menghindari pengobatan medis), atas saran istri, gue dipertemukan dengan psikolog, dan psikiater yang juga hypnoterapist.

Ya, gejala mental-illness ada di diri gue seperti cemas yang sangat berlebihan, keinginan untuk mengakhiri hidup, mendengar bisikan-bisikan jahat, keinginan untuk membunuh orang, hingga menyakiti diri sendiri.

Selain financial seperti usaha yang bankrut, ditipu ratusan juta, kehilangan banyak asset, jadi tiba-tiba banyak utang, depresi, kondisi mental ambruk, pertemanan rusak, nama baik hancur, semangat hidup juga ga ada.

Tapi alhamdulillahnya, setelah melakukan beberapa terapi dan juga dimotivasi oleh keluarga, juga mendekatkan diri dengan Tuhan, dan beberapa upaya-upaya lain, kondisi gue berangsur membaik.

Usaha mulai membaik, eh ada COVID, bngsd! Tidak heran, kasus mental-illness meningkat di kondisi pandemi begini, maka saling support adalah kuntji.

Mungkin cerita hidup gue bisa menjadi pelajaran buat sebagian orang yang merencanakan banyak hal dalam hidup, cemas akan masa depan, dan lain-lain.

Orang yang dibekali nilai-nilai hidup yang baik, akan mengusahakan sesuatu dengan baik pula. Tapi, di luar sana gue banyak melihat praktek kejahatan hanya untuk memperkaya diri. Bahkan orang yang tadinya gue anggap baik, turns out jadi penjahat yang munafik. Asli ini real banget.

Hidup ini gejolaknya ngga pasti, financial planning yang kamu rencanakan jauh-jauh hari bisa saja hancur dalam sehari. Betul, orang yang merencanakan aja bisa hancur, apalagi yang ngga melakukan rencana. Berencana tetap bagian dari upaya.

Tapi, ada hal yang kayaknya ngga pernah kita siapkan, yaitu berencana gagal. Loh gagal kok direncanain?

Iya, elu ga salah baca, atau mungkin istilah yang gue pake kurang tepat, tapi mungkin aja kamu termasuk orang yang sedang membangun ekspektasi yang baik untuk hidup. Tapi mengabaikan faktor-faktor lain; seperti daya juang, daya tahan, peluang, priviledge, dan takdir –ini yang ngga bisa dikontrol. Sehingga ketika kegagalan terjadi, jika ekspektasi kita tidak dijaga, bisa jatuh juga secara mental.

Terus apa yang bisa kita lakukan? Tetaplah merencanakan financial kamu, tapi juga tetap kontrol ekspektasimu, dan yang paling penting, ada Tuhan yang mengatur semua hidupmu. Dekatkan diri selalu pada Tuhan, belajar menerima dan ridho dengan takdir-Nya, berdoa dan minta penjagaan-Nya selalu, dengan begitu, apa pun yang terjadi pada kamu sekarang atau nanti, kamu terlatih untuk berpikir bahwa ‘ini yang terbaik untukku, semua akan baik-baik saja.’

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *