Ekspektasi jangan Ketinggian, kalo Effort kamu Gitu-gitu aja!

Gue baru aja nonton film Joy (Jennifer Lawrence), film biografi entrepreneur tentang seorang ibu rumah tangga yang broke, bercerai, bapak-ibu-nya juga bercerai, dari kecil cuma neneknya aja yang memberi pendidikan mental supaya Joy ini tetap kuat jalani hidup dan gapai kebahagiaan yang dia cari.

Typical film begini, walau skenarionya selalu sama: hidup yang ngga diinginkan, ngapa-ngapain susah, ditipu, dikhianati, rugi, bangkrut, depresi, tapi tetep dijalani dengan banyak keterbatasan, dan akhirnya, berhasil juga –tetep bisa bikin gue termotivasi.

Ini gue bukan mau bikin review pelem yak. Sorry kalo spoiler dikit hehe.

Gue suka dengan film bergenre begini, ada juga drakornya. Film Itaewon Class sih yang lumayan relate. Ada yang suka film ini juga? Share di komen ya, hoho.

Gue sih ngga mau berdebat atau nyinyir sama orang-orang yang sukanya drakor dan pelem-pelem galau gitu ya, walau terkadang suka mikir apa gunanya ya!? Eh tapi ketika nonton sekali, jadi candu! BGSD emang drakor LOL!

Back to topic, topic mana topic,
Ini mungkin jadi penyakit banyak orang, termasuk gue. Yang suka nonton film-film bagus, terus terbentuk ekspektasi yang kadang ketinggian.

Maksudnya?

Gini, kita semua cenderung pengin berhasil dan kaya raya. Kemudian kita ikutan seminar, workshop, seminar motivasi, ke dukun pesugihan, atau course yang ngebahas tentang tips berbisnis era digital atau semacamnya lah.

Dengan angan-angan setelah pulang dari acara itu, langsung ngepraktekin materi dari pembicara, berharap bisa berhasil di pertama kali coba. Sayangnya, karena ekspektasinya yang ketinggian tadi, padahal cuma gagal beberapa kali, langsung ambyar putus asa.

Makanya, film-film keren selalu nyeritain tentang seseorang yang hidup dalam kegagalan demi kegagalan (kegagalan yang bertubi-tubi), tapi karena dia punya grit dan persistensi yang tinggi, akhirnya dia berhasil.

Film-film keren emang nyeritain tentang perjalanan dan pencapaian tokoh utama, tapi yang seharusnya kita resapi itu bukan keberhasilan mereka doang, tapi bagaimana karakter tokoh berkembang. Gaya gue udah kayak kritikus film belum?

Di luar sana, malah lebih banyak realita orang yang gagal, ditipu, bankrut, dan depresi, tapi ngga ada filmnya.., ya siapa juga yang mau nonton, pft.

Ngga heran, banyak anak muda yang kepengin berhasil karena terlalu halu sama keberhasilan atau ending dari cerita, dan akhirnya gagal dengan instant karena simply mereka kepengin berhasil dengan instant juga.

Njir, tulisan kali ini berat ya?! *gue ngetik sambil mikul beras

Apa bener berhasil sesulit itu? YES! Definitely! 1000% SUSAH MA BOIYS!

Kalo berhasil itu gampang, masyarakat Indonesia jadi CEO Gojek semua! Nyatanya, kagak sama sekali! Apalagi kalo kamu berasal dari keluarga pas-pasan, di mana terbukti secara riset empiris, persentase anak dari keluarga pas-pasan yang bisa berhasil jauh lebih rendah dibandingkan anak dari keluarga kaya.

Tapi apakah mustahil anak miskin bisa berhasil? Tentu ngga, contohnya ya film-film biografi orang sukses, yang kebanyakan dari keluarga biasa aja. Karena kalo ngangkat cerita orang berhasil karena keluarganya orang sukses, kayaknya kurang laku, yang ada penontonnya pada julid.

Maka, jika kamu anak dari keluarga yang biasa aja, tapi karena kerja kerasmu kamu bisa berhasil luar biasa, ada kemungkinan cerita hidupmu dijadiin film. Betul, ini lah pesan moral dari tulisan ini. Keren bukan? Pft.

Thanks banget udah support blog ini, ada beberapa follower yang minta gue buka channel Youtube, ada ide diisi konten apaan? Doain aja ya segera punya. Gue lagi focus dulu ngembangin brand clothing gue di ositmen.com, thanks banget buat kalian kalo mau support.

Follow IG gue di @maulasam.

2 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *