Sukses ngga harus sebelum Umur 30

Eskpektasi bisa membunuhmu.

Waktu umur 20an dulu, aktivitas gue dipenuhi dengan ngikutin acara-acara seminar, motivasi, workhsop, baca-baca buku bokep dll. Dengan harapan ngikut gituan, gue akan ketularan suksesnya pembicara.

Gue membangun ekspektasi agar berhasil (finansial) sebelum umur 30 tahun, diiringi dengan belajar lebih keras, berusaha lebih keras, dan gagal lebih cepat.

Di umur 23, gue berhasil membangun kembali usaha yang hampir bankrut dikelola temen gue. Umur 24, gue mulai menulis buku, diterbitkan dan menjadi best seller, dan di tahun yang sama, buku itu difilmkan ke layar lebar. Di tahun yang sama pula, gue menulis buku kedua. Produktif sekali bukan? Iya, gue pake kage bunshin.

Bisa dibilang, gue berhasil sebelum umur 30, indikatornya: banyak yang dateng minjem duit.

Flashback, gue tidak berprestasi akademik di kampus; salah jurusan, telat lulus, bolak balik ngulang dan ngutang di warteg, jadinya diremehkan, setelah beberapa pencapaian di atas, mereka cukup bangga punya temen kayak gue, bisa dilihat dari perbedaan perlakuan mereka.

Hingga umur 27, semua bisnis dan karir gue bankrut karena ditipu orang-orang kepercayaan. Fase broken umur 27-30, selain broke finansial, gue juga broke mental.

Read more

Perencanaan itu Penting, tapi jangan Lupa Kontrol Ekspektasi

Oke, gue lanjutin di blog aja, soalnya kalo di mini-blog di Instagram ngga cukup karena akan panjang. Follow IG gue dong di @maulasam 😊

Anyway, gue awali tulisan ini dengan ngebahas tentang akun financial advisor yang beberapa minggu lalu happening karena kasus yang merugikan nasabahnya.

Ngga cuma di situ, issuenya bercabang jadi ke kasus ownernya, awalnya menyinggung gaya hidupnya yang hypebeast dan kontradiktif dengan advice-advicenya ke publik, berentet jadi banyak kasus lainnya –iya, ini ga ada hubungannya sama tulisan ini sih, gue cuma ngajak ngegossip aja cyin, yuks.

“Menjual ketakutan”, istilah ini gue dapet dari netijen juga.

Kalo dipikir-pikir, iya relate. Karena akun IG financial advisor itu kerap kali ngebahas biaya-biaya yang membuat orang takut menghadapi hidup.

Dipikir logika, iya juga. Gue dan istri juga ngikutin. Sebenernya yang kemudian jadi anxious istri gue, gue –yang posisinya usaha bankrut ketipu orang, ngga bisa terlalu jauh mikirin persiapan sekolah anak, rumah, kendaraan, jalan-jalan, bla bla bla.

Gue mau cerita, tapi gue bukan advisor apa pun gue advisor pesugihan btw, hanya berbagi pengalaman.

Jauh sebelum akun financial advisor itu muncul, sejak umur 18 tahun gue sudah merencanakan keuangan dan karir; karir apa yang bisa membuat gue punya pencapaian finansial lebih cepat, berapa duit yang harus gue tabung untuk nikah dengan kondisi ideal seperti; nikah di gedung, bisa nyicil rumah & kendaraan, biaya persiapan Ibu hamil hingga melahirkan, dst dst.

Setelah dicatat dan direncanakan,

“Hmm, kira-kira, gue harus ngapain ya untuk bisa dapet semua itu dengan cara yang relatif cepat dan mudah.”

Aha! Kemudian muncul ide brilian yang langsung gue tulis di buku agenda, seperti ini,

“Gue kudu nikahin cewek yang orang tuanya tajir mampus.”

Oke, ke sesi serius lagi,

Read more

Ekspektasi jangan Ketinggian, kalo Effort kamu Gitu-gitu aja!

Gue baru aja nonton film Joy (Jennifer Lawrence), film biografi entrepreneur tentang seorang ibu rumah tangga yang broke, bercerai, bapak-ibu-nya juga bercerai, dari kecil cuma neneknya aja yang memberi pendidikan mental supaya Joy ini tetap kuat jalani hidup dan gapai kebahagiaan yang dia cari.

Typical film begini, walau skenarionya selalu sama: hidup yang ngga diinginkan, ngapa-ngapain susah, ditipu, dikhianati, rugi, bangkrut, depresi, tapi tetep dijalani dengan banyak keterbatasan, dan akhirnya, berhasil juga –tetep bisa bikin gue termotivasi.

Ini gue bukan mau bikin review pelem yak. Sorry kalo spoiler dikit hehe.

Gue suka dengan film bergenre begini, ada juga drakornya. Film Itaewon Class sih yang lumayan relate. Ada yang suka film ini juga? Share di komen ya, hoho.

Gue sih ngga mau berdebat atau nyinyir sama orang-orang yang sukanya drakor dan pelem-pelem galau gitu ya, walau terkadang suka mikir apa gunanya ya!? Eh tapi ketika nonton sekali, jadi candu! BGSD emang drakor LOL!

Back to topic, topic mana topic,
Ini mungkin jadi penyakit banyak orang, termasuk gue. Yang suka nonton film-film bagus, terus terbentuk ekspektasi yang kadang ketinggian.

Maksudnya?

Gini, kita semua cenderung pengin berhasil dan kaya raya. Kemudian kita ikutan seminar, workshop, seminar motivasi, ke dukun pesugihan, atau course yang ngebahas tentang tips berbisnis era digital atau semacamnya lah.

Read more